Tampilkan postingan dengan label Next Research. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Next Research. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 14, 2015

Apparatus Orsat

Flue gas adalah gas yang terbuang ke atmosfir dalam suatu reaksi pembentukan gas seperti reaksi pembakaran. Gas ini berupa oksigen, karbon monoksida dan karbon dioksida. Analisa flue gas dilaksanakan untuk memantau kesuksesan sebuah proses pembakaran. Peralatan untuk mengukur konsentrasi flue gas dinamakan peralatan Orsat. Peralatan Orsat ditemukan oleh H Orsat tahun 1873..
Alat ini juga dapat digunakan untuk mengukur gas-gas yang terbentuk selama proses digesting dalam pengolahan limbah.

Gambar Peralatan Orsat
Sumber : http://digital.library.unt.edu/ark:/67531/metadc12305/m1/21/sizes/l/
Beberapa bagian utama yang terdapat dalam peralatan Orsat adalah :
1.    Buret Pengukur (measuring burette)
Volume buret adalah 100 mL (cc). Buret digunakan untuk mengukur volume gas selama proses analisa. Buret di pasang dalam water jacket untuk menghindari perubahan suhu tiba-tiba selama pengukuran.  Bagian bawah buret terhubung ke dalam reservoir berisi air.
2.    Pipet Absorpsi (Absorption Pippete)
Pipet absorpsi adalah pipet berbentuk huruf U yang berisi larutan untuk menangkap flue gas. Ada tiga larutan yang terdapat dalam pipet absorpsi. Larutan pertama (bulb) adalah kalium hidroksida (250g KOH dalam 500mL dalam air distilasi mendidih) yang berfungsi untuk menangkap gas karbon dioksida. Reaksi yang terjadi adalah :
2KOH + COK2CO3+ H2O
Larutan kedua adalah larutan alkali dari asam pirogalat (25g asam pirogalat + 200g KOH in 500 mL of air distilasi) yang berfungsi menangkap gas oksigen. Reaksi yang terjadi adalah :
2 C6H3(OH)3(pyrogallol)+ 2 KOH jenuh + O2 ↔ 4 H2O + 2 C5H3OCOOK
Larutan ketiga adalah larutan amoniakal dari tembaga klorida (100g tembaga klorida + 125 mL ammonia cair +375 mL air) untuk menangkap gas karbon monoksida. Reaksi yang terjadi adalah :
2CuCl + 2CO →(in NH3 solution)→ [CuCl(CO)]2
3.    Botol Pengukur (Levelling Bottle).
Botol ini berisi air dan terhubung ke buret pengukur. Level air dalam botol mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan dan mendorong gas ke buret pengukur. Air dalam botol juga berfungsi sebagai pengatur tekanan ketika volumenya diukur.
4.    Header
Header terbuat dari tabung gelas dilengkapi lubang kecil. Buret pengukur dan pipet absorpsi terhubung ke header dengan pipa karet. Semua koneksi harus terhubung kuat. Header dilengkapi three-way stopcock untuk mengatur gas yang diukur atau dilepaskan (discharge). 

Cara Pengoperasian Alat :
1.    Pastikan semua alat bersih dan tersambung dengan baik, uji dengan udara bertekanan untuk meyakinkan tidak ada kebocoran.
2.    Isi absorption bulb dengan 3 jenis larutan seperti dijelaskan diatas.
3.    Stop-cock ditutup, botol pengukur  dan water jacket diisi dengan air.
4.     Three-way stopcock dibuka dan botol pengukur diangkat hingga buret berisi air dan udara keluar dari buret.
5.    Three-way stopcock dihubungkan dengan sistem penyuplai gas dan botol pengukur diturunkan sehingga gas terukur di buret pengukur.
6.    Sampel gas berisi udara dalam peralatan, sehingga  three-way stopcock dibuka agar udara tersebut terbuang ke atmosfir.
7.    Ulang proses pembuangan udara 3-4 kali agar sampel gas telah murni untuk diukur.

8.    Selanjutnya sampel gas tersedot buret dan diukur dengan kapasitas maksimal buret 100 mL pada tekan atmosfir.

Minyak Kemukus (Piper Cubeba L.f)

Minyak Kemukus (Piper Cubeba L.f)
Pendahuluan
Kemukus (piper cubeba L.f) tumbuh di bawah naungan naungan pohon kopi, kakao dan randu. Buah kemukus diperoleh ketika sudah berumur tiga tahun, berbenatuk seperti lada, diujung buah terdapat ekor sehingga sering disebut buah berekor. Kemukus tumbuh baik pada ketinggian 300 dpl, banyak ditemukan di daerah Purbalingga, Banyumas, Temanggung dan Semarang (Rusli, 2010).

Gambar 1. Tanaman dan Buah Kemukus (www.indonework.co.id)
Minyak atsiri dari kemukus berwarna kuning pucat (gambar 2), diperoleh melalui penyulingan (distilasi uap) buah yang siap panen, kering dan berwarna hitam.
Gambar 2. Minyak kemukus (www.indonetwork.co.id)
Kemukus adalah salah tumbuhan penghasil minyak atsiri utama dari Indonesia. Minyak kemukus dengan nama pasaran cubeb oil adalah minyak atsiri yang berfungsi sebagai bahan baku pembuatan makanan, minuman, perasa, sabun, deterjen, parfum dan bahan baku obat-obatan (Departemen Perdagangan, 2011).
Minyak Atsiri dalam Kemukus
Minyak kemukus adalah penghasil minyak atsiri yang didominasi oleh senyawa terpen (gambar 3), yang tersusun oleh molekul isopren,(C5H8)n. Jika n molekul isopren adalah 2 disebut monoterpen (C5H8)2, sesquiterpen memiliki 3 molekul isopren (C5H8)3. Terpen oxygenat mengandung senyawa okisgen dalam rantai karbon penyusunnya.
(a)

(c)

(b)
(d)




Gambar 3. Senyawa Terpen : (a) Isopren, (b) monoterpen : a-pinen, (c) monoterpen oxygenat : cis-sabinen, (d) sesquiterpen : β-caryophyllen

Kemukus mengandung minyak atsiri, seskuiterpen, asam kubebat, zat pahit kubebin, piperina, piperidin, zat pati, gom dan resin. Sedangkan minyaknya mengandung terpen, δ-sabinen, dipenaten, sineol, δ -terpenol, kadinen, kadinol, derivat seskuiterpen. Setiap tahun pasar dunia seperti Eropa, India, China, Jepang, dan AS membutuhkan sekitar dua juta ton kemukus untuk bahan baku kosmetik, bumbu masak, farmasi, dan obat tradisional. (Departemen Pertanian, 2007).
Bos, dkk (2007) telah melakukan hidrodistilasi buah matang dan daun kemukus (piper cubeba) asal Tulungagung, Jawa Tengah. Hasil hidrodistilasi menghasilkan yield yang berbeda, masing-masing yaitu 11.8 % (w/w) dan 0.9 % (v/w). Berdasarkan analisa komponen produk hidrodistilasi, buah mengandung minyak atsiri 59.6 % (103 komponen) sedangkan daun 77.9 % (62 komponen). Minyak yang terdapat dalam buah dan daun tersebut mengandung monoterpen masing-masing 16.8 % dan 17.0 %. Monoterpen oxygenat adalam buah dan daun masing-masing adalah 3.6 % dan 10.6 %. Sesquiterpen utama dalam buah 23.7 %  dan daun 30.9 %. Sesquiterpen oxygenat pada buah dan daun masing-masing 15.5 % dan 18.6 %. epi-cubebol pada buah dan daun masing-masing adalah 4.6 % dan 4.2 % dan cubebol (gambar 4) masing-masing 5.6 % dan 4.8 %. Kedua komponen tersebut merupakan sesquiterpen utama dalam minyak kemukus. Senyawa cubebol (cubeb oil) adalah komponen perasa yang menimbulkan rasa dingin dalam mulut. Komponen lainnya adalah guaiol (2.9%) dalam buah, γ -cadinol (2.7%) dan α-cadinol (1.9%) dalam daun.

Gambar 4. Cubebol
Lawrence (1980) mengidentifikasi sampel komersial buah kemukus Indonesia dan menemukan bahwa senyawa terpen utama dalam minyaknya adalah α-copaen (10.4%), β-cubeben (11.0%) dan cubebol (10.0%), dimana cubenol dan epi-cubenol adalah 3.5%.
Minyak kemukus secara umum didominasi oleh kumpulan senyawa terpen walaupun dinamakan cubeb oil. Kumpulan senyawa terpen tersebut adalah senyawa karbon yang memiliki gugus alkil bercabang dan ikatan rangkap tunggal cukup besar. Oleh karena itu komponen terpen dalam minyak kemukus merupakan salah satu sumber alternatif produksi senyawa biohidrokarbon.
Minyak Kemukus sebagai Sumber Biohidrokarbon
Pengulangan gugus isopren yang mengandung beberapa cabang (alkil) dan melalui hidrogenasi total ikatan rangkap (unsaturated) akan menghasilkan bahan bakar yang memiliki sifat lebih unggul dibanding bahan baku yang lain. Permasalahan yang muncul saat ini adalah perlunya peningkatan salah satu parameter bahan bakar namun parameter yang lain masih memenuhi standar bahan bakar yang berlangsung di suatu negara. Sebagai contoh adalah permasalahan titik tuang dan titik awan biodiesel apabila digunakan di daerah yang memiliki empat musim seperti di Eropa. Upaya yang telah dilakukan adalah dengan melakukan reaksi hidrogenasi parsial untuk menghasilkan ikatan rangkap tunggal (monounsaturated).
Bahan bakar diesel adalah bahan bakar dengan kandungan senyawa hidrokarbon C13-C17. Bahan bakar diesel menghendaki adanya gugus iso-alkana untuk meningkatkan titik tuang dan titik beku, terutama untuk daerah-daerah yang memiliki musim dingin. Setana (C16) merupakan senyawa standar penentuan angka setana bahan bakar diesel dengan angka setana 100, namun hanya memiliki titik beku 18 0C. Salah satu cara untuk menurunkan titik beku tersebut adalah dengan mengisomerisasi atau mengalkilasi hingga terbentuk senyawa bercabang. Biohidrokarbon dari senyawa terpen tidak memerlukan proses lanjutan karena langsung menghasilkan bahan bakar diesel dengan titik beku jauh lebih rendah.
Bahan bakar seperti bensin yang umum digunakan saat ini adalah bahan bakar dengan kandungan iso-alkana 25-40 %. Untuk meningkatkan karakteristik bensin merujuk ke standar yang ada, maka upaya untuk menurunkan titik beku bensin dengan angka oktan tinggi adalah menambahkan senyawa iso-alkana dalam jumlah yang lebih besar dan sifat yang lain masih memenuhi standar. Jenis bahan bakar lain seperti avtur juga membutuhkan campuran dari berbagai hidrokarbon yang mendukung terbentuknya bahan bakar dengan karakteristik unggul. Komposisi bahan avtur didominasi oleh senyawa alkana, terutama n-alkana dan isoalkana. Selain kedua komponen tersebut, alkana siklis juga dibutuhkan dalam jumlah lebih kurang 20 % seperti yang dilaporkan Colket (2007).
Pemanfaatan terpen sebagai salah satu komponen untuk memperoleh bahan bakar dengan karakteristik lebih baik telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Salah satunya dalam rangka menghasilkan bahan bakar dengan densitas lebih tinggi. Meylemans (2012) menggunakan senyawa terpen α-pinen, camphen, limonen dan terpentin untuk menghasilkan bahan bakar tersebut. Sebagai contoh yang dilaporkan dalam penelitiannya adalah β-pinen di-isomerisasi/dimerisasi, kemudian dihidrogenasi untuk menghasilkan hidrokarbon dengan densitas lebih baik (gambar 5). Bahan bakar yang dihasilkan berada termasuk dalam klasifikasi bahan bakar jet, diesel dan kendaraan taktis.


Gambar 5. Isomerisasi/Dimerisasi β –pinen


Gambar 6. Konversi Bioisopren dalam Reaksi Metatesis Minyak Bumi
McAuliffe (2015) baru-baru ini memanfaatkan isopren dan turunannya sebagai bahan baku campuran isoprene dari minyak bumi untuk menghasilkan berbagai jenis bahan bakar yang memiliki sifat lebih baik (Gambar 6). Isopren dari minyak bumi memiliki pengotor dan biaya yang dibutuhkan untuk menghilangkan tersebut pengotor cukup besar. Oleh karena itu isopren hasil biosintesis (bioisopren) kemudian dijadikan sumber lain dalam rangka meningkatkan sifat bahan bakar yang dihasilkan. Bioisopren dikontakkan dengan katalis dalam reaksi metatesis untuk menghasilkan senyawa olefin kemudian dihidrogenasi parsial menjadi senyawa alkana. Produk yang dihasilkan adalah alkana C7-C15 tergantung kompleks logam yang terlibat sebagai dalam reaksi metatesis.
Kesimpulan
Berdasarkan contoh-contoh diatas dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemanfaatan senyawa terpen yang diperoleh dari minyak kemukus adalah satu bahan baku potensial untuk menghasilkan berbagai jenis bahan bakar dengan karakteristik lebih unggul dibanding bahan baku yang lain tanpa memerlukan reaksi lanjutan.
Daftar Pustaka
Bos, R., Woerdenbag, H., J., Kayser, O., Quax, W.J., Ruslan, K. dan Elfami, 2007, Essential Oils Constitutents of Piper Cubeba L.f fils. from Indonesia, J. Essent. Oil, 19, hal 14-17.
Colket, M., 2007, Development of an Experimental Database and Kinetic Models for Surrogate Jet Fuels, hal. 1-21.
Departemen Perdagangan 11, 2011, Indonesia Essential Oil ; The Scent Of Natural Life, Cetakan pertama, hal. 19, Jakarta
Departemen Pertanian, 2013, Tanaman Kemukus, The dan Kopi, online : http://ditjenbun.pertanian.go.id/tanregar/berita-210-tanaman-kemukus-teh-kopi-.html, Jakarta. diakses 11 April 2015
Lawrence, B., M., 1980, Progress in Essential Oils, Flavor, Edisi 5, hal. 27-32.
Meylemans, H., A., Quintana, R., L. dan Harvey, B., G., 2012, Efficient conversion of pure and mixed terpene feedstocks to high density fuels, hal 560-568.
McAuliffe, J., C., 2015, Fuel Composition Comprising Isoprene Derivative, Patent US8933282 B2.
Rusli, M., S., 2010, Sukses Memproduksi Minyak Atsiri, Cetakan Pertama, hal. 45-46, Jakarta.

Wijaya, W., Minyak Kemukus, online : http://www.indonetwork.co.id/ pt_putera_j_persada/3652546/cubeb-oil-minyak-kemukus.htm, Jakarta, diakses 11 April 2015 

Radiocarbon Analysis

Istilah radiokarbon digunakan untuk menunjukkan atom karbon 14C, sebuah isotop karbon radioaktif dengan waktu paruh sekitar 5730 tahun dan memiliki berat 14 kali berat atom hidrogen. 14C dihasilkan oleh sinar kosmik di lapisan atas stratosfir dan troposfir. 14C tidak stabil dan mengalami peluruhan dalam jangka waktu yang lama. Jika terjadi peluruhan atau berubah kembali menjadi nitrogen 14N, akan dihasilkan energi radioaktif. Karbon ini kemudian didistribusikan ke permukaan atmosfir, lautan, dan cadangan karbon lainnya dalam perut bumi. Dalam atmosfir, terdapat 1 part per trillion (ppt) karbon 14C. Semua organisme akan menyerap dan mengkonsumsi karbon 14C tersebut.


sumber : anonim (2011)
Dalam kehidupan, selain berubah menjadi 14N,  14C juga berinteraksi dengan organisme sekitarnya. Secara total jumlah karbon dalam atmosfir tetap. Jika suatu organisme mati, maka penyerapan karbon berhenti, Jumlah 14C akan berkurang, artinya rasio 14C/12C menjadi lebih kecil. Dengan adanya mekanisme tersebut, maka dapat diprediksi umur organisme dalam kehidupan di alam. Hal ini juga berlaku dalam penentuan umur tanaman dan senyawa organik yang terkandung di dalamnya (lihat gambar). Konsep ini telah diterapkan dalam penentuan komposisi bahan organik dalam bahan bakar (Dijs dkk, 2006), polimer (Onishi dkk, 2010) dan analisa flue gas (Calcagnile dkk, 2011).
Metode penentuan 14C didasarkan pada konsep radiocarbon dating, suatu metode yang didasarkan pada perhitungan aktivitas 14C yang masih terkandung dalam suatu sampel karbon. Metode penentuan umur menggunakan 14C selama ini dilakukan dengan cara mencacah Benzena (C6H6) dengan pencacah sintilasi cair, mencacah C dalam bentuk grafit dengan Accelerator Mass Spectrometry, dan mencacah CH4 dengan Mini Gas Proportional Spectrometry. Penentuan komposisi senyawa organik dalam material campuran didasarkan pada perubahan rasio jumlah radiokarbon suatu sampel terhadap standar material yang disebut persen Modern Carbon (pMC). Jika suatu material karbon yang diukur adalah campuran material hari ini dan material fossil, maka nilai pMC berhubungan langsung dengan biomassa yang terdapat dalam campuran material tersebut.
American Standar for Testing Material (ASTM) telah menentukan metode standar, yaitu ASTM D6866 : Standar Test Methods for Determining the Biobased Content of Solid, Liquid, and Gaseous Samples Using Radiocarbon Analysis. ASTM D6866 adalah metode banyak digunakan dalam industri bioplastik. ASTM D6866 pertama kali diterbitkan pada tahun 2004. Ada beberapa versi yang dirilis sejak saat itu. Versi yang sedang aktif dari standar ini adalah ASTM D6866-12 efektif 11 Mei 2012.
Bahan terbarukan dalam suatu produk adalah jumlah bahan karbon berbasis karbon (unsur C) dalam material atau produk seperti plastik atau bahan bakar. Prosentase biobased content tersebut adalah jumlah persen berat atau fraksi berat kandungan organik total dalam suatu produk seperti disajikan persamaan berikut :
ASTM D6866 mampu membedakan karbon yang dihasilkan dari input berbasis biomassa dengan input berbasis fosil. Biomassa mengandung jumlah karbon 14 yang mudah dibedakan dari bahan lain seperti bahan bakar fosil yang tidak mengandung karbon 14. Karena jumlah karbon 14 dalam biomassa diketahui, persentase karbon dari sumber terbarukan dapat dihitung mudah dari karbon organik total dalam sampel.
Standar terbaru radiocarbon dating adalah standar National Institute of Standar and Technology (NIST), yaitu dengan mengetahui kadar karbon 14C yang setara dengan tahun 1950 (AD 1950). Tahun 1950 dipilih karena adanya peningkatan jumlah karbon di atmosfir setelah peningkatan aktifitas nuklir, termasuk bom atom. AD 1950 dianggap sebagai 100 pMC. Jika material hari ini diukur, akan mendekati angka pMC 107,5. Jika suatu sampel hidrokarbon hari ini seperti Fatty Acid Methyl Ester (FAME) diukur dalam campuran B50 Biodiesel maka diperoleh nilai pMC 54.
Berikut contoh laporan pengukuran analisa biobased content (Blown Film) menggunakan ASTM D6866 :
Diolah dari berbagai sumber

Asam Fitanoat

Asam fitanoat atau asam fitanik adalah asam lemak bercabang dengan rumus molekul C20H40O2.

Gambar Struktur Molekul Asam Phitanat (phytanic acid)

Tabel. Sifat fisika dan Kimia Asam Fitanoat
Keterangan
Asam Phitanat
Nama IUPAC
3,7,11,15-Tetramethylhexadecanoic Acid
Formula
C20H40O2
Berat Molekul (gr/mol)
312.531
Warna
 Cairan tidak berwarna
Titik Leleh (0C)
-    65
Titik Didih (0C)
Tidak ada data
Kelarutan dalam air a
< 100 mg/mL 25
Tekanan uap (mmHg) a
44.6 20
Sumber : 
CRC Handbook of Chemistry and Physics, 95th Edition
https://www.caymanchem.com/msdss/90360m.pdf
Asam fitanoat diperoleh beberapa spesies hewan dengan memakan tanaman atau produk hewani. Pada hewan ruminansia (berlambung empat : rumen, retikulum, omasum, abomasum), fermentasi bahan tanaman dicerna oleh mikroba dalam usus dengan membebaskan fitol, konstituen penyusun klorofil. Fitol dimetabolisme dengan cepat dalam tubuh hewan ruminansia membentuk asam fitanoat dan disimpan dalam lemak. Contoh hewan ruminansia adalah sapi, kerbau, kambing dan domba. Selain pada hewan ruminansia, asam fitanoat ditemukan pada hewan laut seperti beberapa jenis ikan, moluska dan lemak lumba-lumba dan beberapa jenis kera.
Manusia bisa memperoleh asam fitanoat dengan mengkonsumsi klorofil dari tanaman, namun tidak mencukupi. Oleh karena itu manusia dapat memperoleh asam fitanoat dari lemak hewan ruminansia, lemak ikan dan susu. Proses metabolism asam fitanoat diawali dengan alfa-hidroksilasi diikuti oleh dehidrogenasi dan dekarboksilasi. Kelebihan asam fitanoat menyebabkan terjadinya penumpukan dalam jaringan, dikenal dengan penyakit refsum, salah satu penyakit keturunan yang jarang terjadi.

Berdasarkan struktur molekulnya, asam fitanoat adalah asam lemak dengan rantai alkil C16 (hexadekana), setara dengan senyawa parafin penyusun minyak diesel. N-hexadekana adalah senyawa parafin yang memiliki angka setana 100. Adanya gugus metil sebagai cabang rantai lurus alkil memungkinkan produksi bahan bakar dari asam fitanoat dengan karakteristik yang lebih baik, terutama untuk meningkatkan kerentanan perubahan karakteristik bahan bakar solar pada suhu rendah, seperti titik tuang (pour point) dan titik awan (cloud point). Melihat sumber-sumber ditemukan asam fitanoat masih terbatas, maka pembuatan senyawa hidrokarbon dari asam fitanoat dapat digunakan sebagai aditif untuk meningkatkan ketahanan bahan bakar solar pada cuaca dingin (cold properties). 

Jumat, November 18, 2011

Avtur Berbahan Baku Sawit Dikembangkan



JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan minyak avtur (jetfuel) dari minyak sawit yang merupakan teknologi biofuel generasi 1,5, atau pengembangan biofuel generasi pertama melalui jalur "hydrotreating".
"Jalur hydrotreating yakni dengan proses pemberian hidrogen ke minyak sawit (CPO)," kata Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi BPPT Dr Adiarso pada Lokakarya Pengembangan dan Perekayasaan Teknologi Biodiesel 2011 di Jakarta, Rabu (16/11/11)
Hidrogen tersebut berasal dari gasifikasi biomassa dan menghasilkan C02 dan H2 yang direaksikan dengan sintesis Fischer Tropsch dengan menggunakan suatu jenis katalis sehingga menghasilkan minyak avtur, ujarnya.
Biofuel generasi 1,5 ini dikembangkan BPPT bersamaan dengan pengembangan biofuel generasi 2 sejak awal 2010 bekerja sama dengan Jepang.
"Kalau yang generasi pertama sudah selesai prototipenya sejak lama, bahkan pabrik biodiesel dan bioetanol ini sudah diaplikasikan di beberapa daerah di kawasan perkebunan sawit, jarak atau perkebunan lainnya," jelas Adiarso.
Teknologi produksi biodiesel merupakan teknologi produksi generasi I, yaitu melalui reaksi esterifikasi dan transesterifikasi minyak nabati dengan sejumlah alkohol dan katalis asam/basa menghasilkan biodiesel (akil ester).
"Namun karena produksi biodiesel generasi I menggunakan bahan baku minyak sawit mentah (CPO) yang harganya sangat tinggi, sampai Rp8.000-Rp9.000 per liter, maka pengusaha sawit tentu saja lebih memilih ekspor mentah langsung daripada membuat biodiesel yang prosesnya harus menambah Rp1.000-2.000 per liter lagi untuk dijual sebagai biodiesel seharga Rp4.500," katanya.
Itulah mengapa dibuat biodiesel generasi II yang memanfaatkan biomassa melalui proses liquifaksi dan gasifikasi.
"Jika biodiesel generasi I menggunakan minyak sawit, biodiesel generasi II akan menggunakan limbah sawit seperti tandan buah kosong sawit, pelepah dan limbah pertanian lainnya sehingga diharapkan tak ada lagi hambatan mengembangkan biodiesel," terang Adiarso. 
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Aslam Kalyubi mengatakan, potensi biomassa di Indonesia tercatat mencapai 50 ribu MW, bahkan faktanya mencapai 210 ribu MW, sementara kapasistas terpasang hanya 1.618 MW.
"Di AS pembangkitan tenaga listrik dari biomassa mencapai 11 ribu MW sedangkan di Indonesia biomassa untuk pembangkit listrik belum tercatat pasti, namun telah digunakan oleh sejumlah perusahaan," katanya.

[repost] : dari kompas

Senin, April 06, 2009

Lignoselulosa

Karaketristik Lignoselulosa

Lignoselulosa terutama tersusun atas lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Kandungannya bervariasi tergantung pada jenis dan umur tanaman.

Lignin

Lignin adalah polimer tri-dimensional phenylphropanoid yang dihubungkan dengan beberapa ikatan berbeda antara karbon-ke-karbon dan beberapa ikatan lain antara unit phenylprophane yang tidak mudah dihirolisis (33). Di alam lignin ditemukan sebagai bagian integral dari dinding sel tanaman, terbenam di dalam polimer matrik dari selulosa dan hemiselulosa. Lignin adalah polimer dari unit phenylpropene: unit guaiacyl (G) dari prekusor trans-coniferyl-alcohol, syringyl (S) unit dari trans-sihapyl-alcohol, dan p-hydroxyphenyl (H) unit dari prekursor trans-p-coumaryl alcohol. Komposisi lignin di alam sangat bervariasi tergantung pada spesies tanaman. Pengelompokan seperti kayu lunak, kayu keras, dan rumput-rumputan, lignin dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu: guaiacyl lignin dan guaiacyl-syringyl lignin (Gibbs, 1958 in (34)). Guaiacyl lignin adalah produk polimerisasi yang didominasi oleh coniferyl alcohol, sedangkan guaiacyl-syringlyl lignin tersusun atas beberapa bagian dari inti aromatic guaiacyl dan syringyl, bersama dengan sejumlah kecil unit p-hydroxyphenyl. Kayu lunak terutama tersusun atas unit guaiacyl, sedangkan kayu keras juga tersusun atas unit syringyl. Kayu lunak ditemukan lebih resisten untuk didelignifikasi dengan ekstraksi basa daripada kayu keras (35). Hal ini menimbulkan dugaan bahwa guaiacyl lignin membatasi pemekaran (swelling) serat dan dengan demikian menghalangi serangan enzim pada syringyl lignin. Struktur yang lebih resisten dari guaiacyl lignin juga telah diobservasi di dalam study degradasi dari lignin sintetis oleh fungi perombak lignin Phanerochaeta chrysosporium (Faix et al., 1985).
Beberapa study lignin terbaru menemukan bahwa terdapat struktur lignin yang bermacam-macam (36). Lignin seperti terdiri dari daerah amorphous dan bentuk-bentuk tersturktur seperti partikel tabung dan globul. Ada indikasi pula bahwa struktur kimia dan tri-dimensional lignin sangat dipengaruhi oleh matrik polisakarida. Simulasi dinamik menunjukkan bahwa gugus hydroxyl dan methoxyl di dalam prekusor lignin dan oligomer mungkin berinteraksi dengan mikrofibril selulosa sejalan dengan fakta bahwa lignin memiliki karakteristik hidrofobik.

Tipe ikatan utama lignin di dalam kayu spruce adalah ikatan (linkage) ether, di mana ikatan arylglycerol--aryl ether adalah yang utama. Sebagai tambahan, unit phenylpropene diikat oleh ikatan karbon-ke-karbon (37). Grup fungsional yang mempengaruhi reaktifitas lignin meliputi gugus phenolic hydroxyl bebas, methoxyl, benzylic hydroxyl, benzyl alcohol, noncyclic benzyl ether dan carbonyl. Guaiacyl lignin mengandung gugus phenolic hydroxyl daripada syringyl. Skema struktur dari lignin kayu lunak, termasuk struktur baru dibenzodiaxocin, diperlihatkan pada Gambar 1.

struktur lignin

struktur lignin


Gambar 1. Struktur lignin kayu lunak (Brunov, 1998). Gugus struktur dan fungsional yang umum ditemukan di dalam molekul lignin juga ditampilkan.

Struktur kimia asal lignin mengalami perubahan di bawah kondisi suhu yang tinggi dan asam, seperti pada pretreatment dengan uap panas. Reaksi pada temperature tinggi di atas 200oC, lignin terpecah menjadi partikel yang lebih kecil dan terlepas dari selulosa (38). Penelitian awal pada lignin kayu keras menunjukkan bahwa ikatan -O-4 aryl ether terpecah pada saat perlakuan steam-explotion yang menyebabkan penurunan bobot molekul dan meningkatkan kandungan phenolic (38).

Selulosa

Selulosa adalah komponen utama yang mencapai 62.9% dari bobot kering TKKS (6). Selulosa sangat erat berasosiasi dengan hemiselulosa dan lignin. Isolasi selulosa membutuhkan perlakuan kimia yang intensif (5). Selulosa terdiri dari unit monomer D-glukosa yang terikat melalui ikatan -1-4-glikosidik. Residu glukosa tersusun dengan posisi 180o antara satu dengan yang lain, dan selanjutnya pengulangan unit dari rantai selulosa membantuk unit selobiosa (Gambar 2). Derajat polimerasi(DP) selulosa bervariasi antara 7000 – 15000 unit glukosa, tergantung pada bahan asalnya.
picture2
(A)
picture3
(B)
Gambar 2. Gambar skema selulosa (A) (sumber http://www.scientificpsychic.com/fitness/carbohydrates.html ) dan model molekul selulosa (B) (sumber http://www.lsbu.ac.uk/water/hycel.html).

Gugus fungsional dari rantai selulosa adalah gugus hydroxyl. Gugus – OH ini dapat berinteraksi satu sama lain dengan gugus –O, -N, dan –S, membentuk ikatan hydrogen. Ikatan –H juga terjadi antara gugus –OH selulosa dengan air. Gugus-OH selulosa menyebabkan permukaan selulosa menjadi hidrofilik. Rantai selulosa memiliki gugus-H di kedua ujungnya. Ujung –C1 memiliki sifat pereduksi. Struktur rantai selulosa distabilkan oleh ikatan hydrogen yang kuat disepanjang rantai. Di dalam selulosa alami dari tanaman, rantai selulosa diikat bersama-sama membentuk mikrofibril yang sangat terkristal (highly crystalline) dimana setiap rantai selulosa diikat bersama-sama dengan ikatan hydrogen. Sebuah kristal selulosa mengandung sepuluh rantai glukan dengan orientasi pararel. Tujuh kristal polymorphs telah diidentifikasi untuk selulosa, yang dikodekan dengan Iα, I, II, IIII,IIIII, IVI dan IVII (39). Di alam, kristal selulosa jenis Iα dan I ditemukan melimpah (41). Sebagai tambahan di dalam area yang sangat terkristal, selulosa alami mengandung area amorphous yang lebih sedikit.

Hemiselulosa

Hemiselulosa umumnya dikelompokkan berdasarkan residu gula utama yang menyususun rangkanya, seperti: xylan, mannan, galactan, dan glucan, dengan xylan dan mannan adalah gugus utama dari hemiselulosa (Gambar 3). Hemiselulosa umumnya dilaporkan berasosiasi secara kimia atau terikat-silang dengan polisakarida, protein, atau lignin. Xylan kemungkinan sebagai wilayah ikatan utama antara lignin dan karbohirat lain. Hemiselulosa lebih mudah larut daripada selulosa, dan dapat diisolasi dari kayu dengan ekstraksi. Rata-rata derajat polimerisasi (DP) dari hemiselulosa bervariasi antara 70 dan 200 tergantng pada jenis kayu (34).

hemiselulosa
Gambar 3. Beberapa gula penyusun hemiselulosa (sumber (15))

Hemiselulosa di dalam kayu keras dan tanaman semusim terutama tersusun atas xylan (15-30%), sedangkan hemiselulosa kayu lunak tersusun atas galaktoglukomannan (15 – 20%) dan xylan (7 – 10%). Xylan kayu keras terdiri atas unit -D-xylopyranosyl, yang mengandung asam 4-O-methyl-α-D-glucuronic dan gugus samping acetil. Asam 4-O-methyl-α- D-glucuronic diikat ke rangka xylan melalui ikatan O-(12) glycosidic dan asam asetik diesterifikasi pada gugus karbon 2 dan/atau 3 hydroxyl. Rasio molar antara xylosa : asam glukoronat : residu acetil adalah antara 10:1:7. Xylan kayu lunak adalah arabino-4-O-methylglucuronoxylan, di mana tidak terasetilasi, tetapi rangka xylan disubstitusi pada karbon 2 dan 3 secara berurutan dengan asam 4-O-methyl-α-D-glucuronic dan residu α-L-arabinofuranosyl (35).

Galaktoglukomannan kayu lunak memiliki rangka ikatan--1-4 unit -D-glucopyranosyl dan -D-mannopyranosyl, yang sebagian disubstitusi oleh α-D-galactopyranosyl dan gugus asetil (39). Terdapat dua macam galaktoglukomanan: fraksi larut air dan alkali, dengan rasio mannose:glukosa:galaktosa:residu asetil 3:1:1:0.24 untuk faksi larut air, dan 3:1:0.1:0.24 untuk fraksi larut alkali (Timell, 1967 in (34)).

disadur dari : www.isroi.wordpress.com