Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kutipan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 09, 2015

Dukung Langkah Mempora, Demi Sepakbola Indonesia Lebih Baik !

[Repost]
Benarkah intervensi pemerintah selalu menuai sanksi FIFA? Tidak juga. Lihat saja, Australia. Pada 2002, setelah Australia gagal lolos ke Piala Dunia 2002, Pemerintah Australia, melalui Kementerian Olahraga, bekerjasama dengan parlemen membentuk komite independen untuk merombak federasi sepakbola Australia, Soccer Australia (SA) yang dipimpin Nick Greiner (La Nyalla-nya Australia). Gara-garanya, selama dipimpin Nick Greiner, SA menjadi ajang kepentingan politik, salah urus organisasi dan adanya perlawanan terbuka terhadap pemerintah, bahkan menolak menerima rekomendasi pemerintah terkait pembenahan SA, termasuk korupsi hingga SA akhirnya bangkrut meninggalkan hutang sekitar 2,6 juta dolar. Komunitas sepak bola Australia yang sudah geram dengan kelakuan pengurus- pengurus SA kemudian mengirim surat kepada Senator Rod Kemp, Menteri Federal untuk Seni dan Olahraga Australia. Surat rekomendasi inilah yang dijuluki sebagai “Laporan Crawford” tertanggal 2 September 2002, kemudian dipublikasikan oleh Kementrian Olahraga Senator Rod Kemp. Setelah itu, pemerintah membentuk tim yang menamakan dirinya Soccer Independent Review Committee atau Laporan Komite Review Independen Soccer, yang kemudian memberikan laporannya tertanggal 7 April 2003. Gegerlah sepak bola Australia melihat kebobrokan di tubuh pengurus SA. Hasil investigasi tim bentukan pemerintah Australia itu kemudian merekomendasi untuk dibentuk otoritas sepakbola yang baru. Hasilnya, Soccer Australia (SA) dilikuidasi dan diubah namanya menjadi Australia Soccer Association (ASA), dengan membuang para pengurus SA yang memiliki kepentingan di luar kemajuan sepak bola. Pemerintah pun mengucurkan dana sekitar 15 juta dolar kepada ASA. Pada 1 Januari 2005, ASA mengubah namanya kembali menjadi Football Federation Australia (FFA), yang dulu pernah dipakai pada 1961 sampai 1995. Bagaimana hasil dari intervensi pemerintah terhadap PSSI-nya Australia? Lihat saja, sepakbola Australia tak pernah absen di tiga Piala Dunia, dari 2006-2014, dan kompetisi profesionalnya A-League maju pesat dan menarik. Bahkan, Del Piero pun lebih memilih berlaga di Australia di saat pensiun dari Seria A Italia. Pertanyaan besarnya: apakah ketika pemerintah Australia mengintervensi ASA, FIFA kemudian menjatuhkan sanksi? Tidak. Faktanya memang tidak. PSSI Perlu Ganti Nama? Pemerintah Indonesia, melalui Kemenpora, perlu belajar dari Australia. Perlu ada tim investigasi menyeluruh di tubuh PSSI. Bahkan, kalau perlu PSSI diruwat, diganti namanya untuk menghilangkan borok-borok PSSI. Terkait sanksi FIFA, percayalah Indonesia tidak akan disanksi (di- banned ) oleh FIFA. Sejumlah argumen bisa dikedepankan. Bagi FIFA dan para sponsornya, Indonesia merupakan pasar potensial dengan 250 juta penduduk yang kebanyakan gila bola. Bayangkan, jika FIFA memberi sanksi Indonesia, apakah para sponsor FIFA, seperti Adidas, Coca cola, Castrol, dan merk-merk lainnya tidak akan marah kepada FIFA? Karena mereka bakal kehilangan pasar potensial di Indonesia. Argumen ini sangat masuk akal, karena bagaimanapun kepentingan bisnis tidak bisa dikesampingkan, dalam arti FIFA tidak bisa mengabaikan suara- suara para sponsornya. Argumen lain juga bisa dilihat dari daftar negara-negara yang pernah di sanksi FIFA. Ada sekitar 10 negara yang pernah di sanksi FIFA dan negara- negara itu tidak begitu memiliki nilai bisnis yang tinggi, dalam arti 10 negara yang di-banned FIFA bukan pasar potensial, bagi para sponsor FIFA, dengan penduduk di atas 100 juta jiwa. Kesepuluh Negara yang pernah di sanksi FIFA beserta alasannya, adalah: 1. Yunani Yunani terkena sanksi 4 hari, dari 3-7 Juli 2006. Sanksi dijatuhkan lantaran Federasi Sepakbola Yunani (EPO) tidak mematuhi statuta FIFA, dan dugaan adanya politisasi dunia sepak bola di negara ini. 2. Kuwait Kuwait terkena banned sekitar 15 hari, dari 30 Oktober – 15 November 2007. Gara-gara, Pemerintah Kerajaan Kuwait mengintervensi dalam proses pemilihan ketua umum dan dewan direksi Federasi Sepakbola Kuwait (KFA). Setelah dilakukan pemilihan ulang pada 9 Oktober dan terpilih ketua dan anggota baru, FIFA mencabut sanksi Kuwait pada 15 November 2007. 3. Kenya Pada November 2006, Federasi Sepakbola Kenya (KFF) mendapat sanksi dari FIFA, setelah adanya campur tangan pemerintah dalam hal tata kelola organisasi. Namun, FIFA akhirnya mencabut sanksinya pada 2007. 4. Madagaskar Pada 19 Maret 2008, FIFA memberi sanksi kepada Federasi Sepakbola Madagaskar (FMF). SanksPSSIi diberikan setelah pemerintah membubarkan kepengurusan FMF dan meminta dilakukannya pembentukan ulang. FIFA menganggap ada intervensi pemerintah. Namun, Mahkamah Agung setempat tak memuluskan upaya pemerintah membubarkan FMF. Sanksi pun dicabut pada 19 Mei 2008. 5. Brunei Darussalam FIFA mem- banned Federasi Sepakbola Brunei Darussalam pada 2009. Sanksi diberikan setelah adanya intervensi pemerintah, di mana Sultan Brunei membentuk kepengurusan baru federasi sepak bola negaranya pada Desember 2008. FIFA mencabut sanksinya pada 30 Mei 2011. Dan, hebatnya, setelah sanksi FIFA dicabut, Brunei malah membuat sejarah dengan mengalahkan Indonesia 2-0 di Piala Hassanal Bolkiah 2012. Setelah itu, di kejuaraan yang sama tahun 2014, Brunei mengalahkan Indonesia U-19 3-1. 6. Peru Peru terkena sanksi FIFA sekitar 25 hari, dari 25 November – 20 Desember 2008. Sanksi diberikan setelah terjadi kekisruhan antara pemerintah dan Federasi Sepakbola Peru (FPF) pada saat pemilihan Ketua Umum. Saat itu, pemerintah Peru tak mau mengakui terpilihnya Manuel Burga sebagai Presiden FPF. Sanksi FIFA baru dicabut satu bulan kemudian. 7. Iran Iran terkena sanksi FIFA sekitar 20 hari, dari 26 November – 17 Desember 2006. Federasi Sepakbola Iran (IRIFF) terkena sanksi karena adanya intervensi pemerintah terkait cara pergantian kepemimpinan di IRIFF. Saat itu, Mohammed Dadgan terpilih sebagai Presiden IRIFF untuk kali kedua. Padahal, sebelumnya FIFA sudah memperingatkan IRIFF untuk melakukan pemilihan ulang. Setelah saran dituruti, FIFA mencabut sanksi pada 17 Desember 2006. 8. Nigeria Nigeria terkena sanksi 4 hari, pada 4 November 2010. FIFA menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepakbola Nigeria (NFF) karena adanya intervensi pemerintah terkait mundurnya Sekjen NFF, gara-gara adanya instruksi Komisi Olahraga Nasional dan permintaan Menteri Olahraga untuk meniadakan degradasi di Liga Nigeria. Sanksi FIFA baru dicabut empat hari kemudian. Namun, hal serupa kembali terulang pada 9 Juli 2014. Lagi-lagi, pemerintah melakukan intervensi dan kali ini perihal pengangkatan sepihak Lawrence Katiken sebagai ketua federasi. Namun, 10 hari kemudian, FIFA mencabut sanksinya setelah situasi kembali normal. 9. Ethiopia FIFA menjatuhkan sanski Federasi Sepakbola Ethiopia (EFF) pada 2008, setelah adanya intervensi pemerintah karena memecat Presiden EFF. Setelah Presiden EFF baru terpilih melalui pengawasan FIFA dan Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF), FIFA mencabut sanksinya pada Mei 2009. 10. Irak Irak terkena sanksi FIFA selama 4 bulan, dari 20 November 2009 sampai Maret 2010. Pasalnya, pemerintah mengintervensi Federasi Sepakbola Irak (IFA) terkait kepengurusan dan sengketa antara IFA dengan Komite Olimpiade Irak. Setelah sengketa diselesaikan, FIFA mencabut sanksi pada Maret 2010. Lihat saja, dari sanksi ( banned) FIFA terhadap negara-negara anggotanya, tidak ada yang terkait penegakan aturan hukum negara kepada federasi sepak bolanya. Itu artinya, ketika Menpora dan BOPI menuntut PSSI menjalankan hukum negara, maka tak usah khawatir FIFA akan memberi sanksi PSSI. Kalau toh sekarang pengurus PSSI selalu menggembar-gemborkan ancaman sanksi FIFA, bahkan minta bantuan Sekjen FIFA Jerome Valcke yang merupakan “langganan” PSSI, itu adalah upaya membodoh-bodohi rakyat, termasuk DPR, bahkan termasuk pula media teve yang selalu mendukung “mati” pengurus PSSI. Ah, kasihan, mereka cuma dijadikan alat PSSI. # PSSISEHAT???

Sumber : FB : Ivan Blazer Communnity (Komentar di FB Timnas Indonesia)
https://www.facebook.com/TIMNASIONALINDONESIA/posts/10152905609076314?comment_tracking=%7B%22tn%22%3A%22O%22%7D

Hati kami disini, dimana hatimu hai PSSI?

Minggu, September 18, 2011

Kericuhan Kecil di Komunitas Blogger

Komunikasi via jejaring sosial saat ini telah banyak dilakukan orang. Sarana jejaring sosial yang saat ini cuku populer di Indonesia adalah Facebook (FB). Fasilitaas yang tersedian di FB cukup beragam mulai dari sarana posting status lengkap dengan komentar, upload foto, chattin, permainan dan lain-lain. Saat ini FB juga tersedia fasilitas kelompok diskusi dalam bentuk grup yang dapat diuat dan dikelola dengan mudah. Grup ini dapat digunakan sebagai sarana berinteraksi dengan sesama anggotanya. 

Tentu saja setiap ada aktivitas maka selain dapat mengambil manfaat maka terkadang juga ada efek yang mengganggu anggota. Dalam grup ini juga terjadi hal demikian. Grup dapat digunakan sebagai sarana diskusi, tukar pendapat ataupun interaksi lain. Apabila topik yang didiskusikan ini menarik minat kita maka hal ini akan bersifat menyenangkan, akan tetapi bila topik yang ada bukan menjadi minat kita maka akan menjadi hal yang cukup mengganggu atau minimal tidak memancing perhatian kita. Fasilitas dalam FB ini adalah keberadaan notification atau pemberitahuan untuk setiap masukan komentar yang muncul. Pemberitahuan ini akan disampaikan ke email atau juga lewat pemberitahuan di dalam FB itu sendiri. Apabila diskusi yang terjadi cukup intens maka tentu saja pemberitahuan ini akan muncul berulang kali.
Aktivitas FB dapat menjadi kecanduan.
Aktivitas FB dapat menjadi kecanduan.
Satu hal yang cukup menimbulkan efek negatif adalah seringnya pemberitahuan komentar pada perangkat internet mobile yang dimiliki para penggunanya. Perangkat seperti Blackberry, PDA atau handphone pintar yang tersambungkan online secara 24 jam akan dapat memberitahukan pada pemegangnya untuk setiap pemberitahuan ini. Pemberitahuan ini dapat diatur berupa bunyi-bunyian tertentu atau sekedar kode lain. Kembali ke masalah topik di atas, maka pemberitahuan yang cukup sering akan dirasa mengganggu jika isi yang bergulir tidak menarik minat pengguna.
Saya belum lama ini mengalami dua kasus dimana keberadaan grup ini mulai mengganggu beberapa anggota dan menyebabkan yang bersangkutan mengajukan komplain. Kasus pertama adalah di grup komunitas bloger lokal dan yang kedua adalah di grup alumni almamater.
Kasus pertama
Untuk kasus ini terjadi pada grup alumni kimia yang pada awalnya ditujukan untuk merangkul para alumni. Namun dalam perkembangannya juga melingkupi dosen dan para mahasiswa yang masih aktif. Keberadaan grup ini cukup bermanfaat untuk sarana diskusi berbagai macam topik baik yang serius seperti pemberitahuan even atau beasiswa, bahkan yang santai sekedar obrolan atau curahan perasaan saja.
Dari grup ini kemudian juga berkembang untuk dilaksanakan acara temu darat para alumni. Tentu saja tidak semua anggota bisa langsung ikut dalam acara tersebut. Dalam lanjutannya, acara dan dokumentasi acara tersebut juga ditampilkan di diskusi grup ini. Salah satu yang dipostingkan adalah dalam bentuk foto-foto peserta yang hadir yang kemudian mengundang diskusi dalam postingan tersebut.
Ternyata postingan seperti ini membuat lalu lintas postingan dan komentar menjadi sangat tinggi. Tentu saja akan membuat banyak pemberitahuan secara otomatis bagi para anggotanya. Hal ini membuat sebagian anggota merasa tidak nyaman dan kemudian mengajukan keberatan.
Kasus kedua
Untuk kasus kedua ini terjadi saat saya baru saja mendaftar di group facebook yang dibentuk sebagai kumpulan dari para blogger lokal dari daerah saya dalam wadah komunitas blogger. Sesuai dengan namanya maka bayangan saya para anggota yang tergabung adalah para blogger yang memiliki blog masing-masing. Meskipun tidak ada ketentuan tertulis yang jelas untuk para anggota yang dapat memberi informasi tujuan, persyaratan atau informasi lain, maka saya tetap mendaftar dan menyimak dulu.
Kalau tadinya saya mengira para blogger dari daerah saya ini juga akan berkomunikasi dengan memuat artikel-artikel kedaerahan, tetapi ternyata setelah saya amati kebanyakan artikel memuat hal yang lebih pada komputer atau bahkan tentang seluk beluk blog itu sendiri seperti SEO optimization, teknis website dan lain-lain. Saya sadari itulah trend para blogger yang salah satunya memang untuk menghasilkan uang dari kunjungan ke blog mereka atau pengunjung yang mengklik dari iklan yang tertera di situs mereka. Bagi saya yang membuat blog hanya untuk sekedar pelampiasan ide dan unek-unek dalam kepala, tentu saja mungkin berbeda dalam hal tujuan ini. Tetapi tentu saja tidak menjadi masalah karena saat ini memang banyak orang yang berharap mendapatkan penghasilan yang relatif mencukupi dari model iklan yang terpampang di blog mereka.
Dalam perkembangan berikutnya saya amati banyak anggota yang memberikan informasi blog masing-masing dengan jalan share link alamat blog mereka. Termasuk juga banyak yang memberikan share link postingan artikel-artikel yang mereka buat. Akhirnya saya juga mendaftarkan diri di database informasi blog para anggota. Selanjutnya juga memberi pesan di wall berupa keberadaan blog pribadi saya untuk dapat dikenal para anggota lain.
Ternyata pola seperti ini juga banyak dilakukan para anggota lain yang memasang informasi di wall untuk menunjukkan keberadaan blog pribadi mereka. Hal ini kemudian ternyata menjadikan traffic pesan menjadi meningkat memenuhi wall para anggotanya. Situasi berlanjut saat kemudian ada anggota yang merasa terganggu dan menganggap sudah sebagai suatu spam yang tidak berguna, maka dia merespon yang menurut saya cukup berlebihan. Saya sendiri tidak tahu persisnya apakah yang bersangkutan itu anggota senior, blogger berpengalaman atau malah anggota yang tersasar masuk grup komunitas ini, tapi dari tulisan perkataannya yang sampai membawa nama anggota satwa karnivora menunjukkan satu ironi tersendiri.
Kesadaran Anggota
Selain ikut mengikuti grup komunitas blogger ini, saya juga aktif bergabung dengan grup komunitas lain baik yang sama-sama di FB ataupun di grup milis. Selain itu berkecimpung juga di citizen journalism Kompasiana dan aktif di Yahoo Answer. Dari pengalaman ini memang saya mendapatkan pemahaman tentang banyak perbedaan latar belakang para anggota yang terlibat. Dari sini hendaknya malah digunakan untuk menerima perbedaan dengan baik. Tetapi yang membuat saya kaget saat di komunitas ini adalah jika penggunaan kata yang relatif kasar dan menjadi situasi tidak nyaman. Hal yang seharusnya terjadi adalah setiap anggota harus dapat menempatkan diri pada situasi yang terjadi.
Perangkat mobile untuk akses FB
Perangkat mobile untuk akses FB
Penyelesaian masalah ini sebenarnya dapat dipermudah oleh berbagai pihak. Terutama pihak moderator atau inisiator grup yang memberikan peringatan kepada para anggotanya untuk tidak membuat informasi di wall grup yang berkesan sebagai spam. Bagi para anggotanya sendiri, yang sebagai seorang blogger dan terbiasa dengan teknologi internet, tentunya punya pengetahuan untuk mengatur setting akoun pribadi di grup tersebut. Dengan demikian jika dia merasa terganggu dapat memutuskan keluar mengundurkan diri dari grup atau tetap bertahan sebagai anggota dengan mengatur setting untuk tidak menampilkan pemberitahuan otomatis. Jika ingin memberitahukan masalah ini, mungkin dapat dilakukan dengan baik. Saya yakin sebagai seorang blogger maka penyampaian komunikasi seperti ini adalah hal yang sangat mudah.
Saya juga punya pengalaman diajak masuk dalam suatu grup tentang informasi ibadah haji. Mengingat saya mengenal inisiator dan juga merasa hal ini cukup bermanfaat maka saya bergabung dalam grup ini. Dalam perkembangannya ternyata status membanjiri inbox berupa detail dan segala informasi yang terkait. Bagi saya hal seperti ini malah menjadi informasi yang tidak berguna lagi karena dapat saya peroleh dari sumber lain. Akhirnya karena merasa terganggu, saya setting sendiri untuk tidak menerima status dari grup ini tanpa harus keluar sebagai anggotanya.
Klik Edit Setting
Klik Edit Setting
Hapus centang pada isian pemberitahuan (notification)
Hapus centang pada isian pemberitahuan (notification)
Cara pengaturan di atas tadi kalau memang masih belum memuaskan maka penyelesaian akhir yang mudah adalah dengan cara mengundurkan diri dari grup tersebut.
Jadi memang dimana-mana, kita harus selalu bisa membawa diri dan untuk selalu menjaga tenggang rasa.  Tetapi memang perlu diingat bahwa peran aktif anggota tetap diperlukan, misalnya dengan memberitahukan ke moderator soal anggota yang ‘nakal’ atau soal postingan yang bertentangan dengan peraturan dari tujuan grup. Kedewasaan para anggota sendiri yang menentukan pertimbangan-pertimbangan ini.
Salam FB.


Disadur utuh dari